Ahmad Haikal Hasan Tegaskan “Halal Is for All” Saat Terima Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University


Ahmad Haikal Hasan, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), menegaskan kembali gagasan “Halal Is for All” saat menerima gelar Profesor Kehormatan dari Silla University, Busan, Korea Selatan, pada pertengahan Juni 2026. Penganugerahan ini menjadi salah satu momentum penting yang tidak hanya menandai pencapaian pribadi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan industri halal global.

Gelar Profesor Kehormatan tersebut diberikan oleh Silla University sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi Ahmad Haikal Hasan dalam membangun dan memperluas ekosistem halal, baik di Indonesia maupun dalam forum internasional. Kontribusinya dinilai mencakup penguatan sistem jaminan produk halal, pengembangan pendidikan halal, riset lintas negara, hingga perluasan kerja sama kelembagaan di tingkat global.

Penghargaan ini juga menjadi cerminan bahwa isu halal kini telah berkembang jauh melampaui batas administratif dan religius, menjadi bagian dari sistem ekonomi, standar mutu, dan kepercayaan konsumen global yang semakin relevan di era modern.

Pengakuan Akademik terhadap Peran Indonesia dalam Ekosistem Halal

Pemberian gelar Profesor Kehormatan oleh Silla University kepada Ahmad Haikal Hasan menandai adanya pengakuan akademik internasional terhadap peran Indonesia dalam pengembangan ekosistem halal dunia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis dalam membangun standar halal yang tidak hanya berlaku secara nasional, tetapi juga berpotensi menjadi acuan global.

BPJPH sebagai lembaga yang dipimpin Haikal Hasan memiliki peran sentral dalam sistem jaminan produk halal di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, penguatan halal tidak hanya difokuskan pada aspek sertifikasi, tetapi juga pada pembangunan ekosistem yang lebih luas, mencakup edukasi, digitalisasi layanan, pengawasan, serta kerja sama internasional.

Silla University menilai bahwa kontribusi tersebut memiliki dampak signifikan dalam memperluas pemahaman tentang halal sebagai sistem yang menyeluruh. Halal tidak lagi hanya dipahami sebagai label pada produk makanan dan minuman, tetapi juga mencakup kosmetik, obat-obatan, layanan jasa, hingga rantai pasok global yang kompleks.

Dalam konteks global, konsep halal semakin berkembang menjadi bagian dari standar kepercayaan konsumen. Produk yang tersertifikasi halal dianggap memiliki jaminan kualitas, kebersihan, keamanan, serta transparansi dalam proses produksi.

“Halal Is for All” sebagai Visi Global

Dalam pidatonya saat menerima penghargaan, Ahmad Haikal Hasan kembali menegaskan visinya melalui ungkapan “Halal Is for All”. Pernyataan ini menjadi inti dari pesan yang ingin disampaikan Indonesia kepada dunia internasional terkait makna halal yang lebih luas dan inklusif.

Menurut pandangan tersebut, halal tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam, tetapi juga dapat menjadi standar universal yang memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat. Halal dipahami sebagai sistem yang menjamin kualitas produk, kebersihan proses produksi, keamanan konsumsi, serta transparansi rantai pasok.

Gagasan ini juga menunjukkan bahwa industri halal memiliki potensi besar untuk menjangkau pasar global lintas agama, budaya, dan negara. Di berbagai negara, produk halal kini tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat Muslim, tetapi juga oleh konsumen non-Muslim yang mengutamakan kualitas dan keamanan produk.

Dengan pendekatan tersebut, halal berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern yang menekankan etika produksi dan tanggung jawab industri terhadap konsumen.

Halal sebagai Ekosistem yang Lebih Luas dari Sekadar Sertifikasi

Selama ini, pembahasan tentang halal sering kali terbatas pada proses sertifikasi. Padahal, ekosistem halal mencakup berbagai aspek yang lebih kompleks dan saling terhubung.

Ekosistem tersebut meliputi pendidikan, penelitian, audit, pengawasan, laboratorium, teknologi informasi, logistik, rantai pasok, hingga kerja sama internasional. Setiap elemen memiliki peran penting dalam memastikan bahwa produk halal tidak hanya memenuhi standar administratif, tetapi juga benar-benar terjamin dari sisi kualitas dan kepercayaannya.

Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan kepada Ahmad Haikal Hasan menunjukkan bahwa isu halal kini telah memasuki ruang akademik global. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mengembangkan kajian halal secara ilmiah, multidisipliner, dan berbasis kebutuhan industri modern.

Dengan keterlibatan dunia akademik, halal dapat dikembangkan sebagai bidang ilmu yang mencakup hukum, ekonomi, teknologi pangan, manajemen, komunikasi, hingga hubungan internasional.

Kolaborasi Silla University dan BIC Halal Korea

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, Silla University juga menjalin kerja sama dengan BIC Halal Korea. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat pendidikan halal, riset bersama, serta pengembangan sistem sertifikasi halal yang berstandar internasional.

Kerja sama tersebut dinilai memiliki nilai strategis, tidak hanya bagi Korea Selatan, tetapi juga bagi Indonesia dan negara lain yang terlibat dalam pengembangan industri halal global. Bagi Korea Selatan, kerja sama ini membuka peluang besar untuk memperluas pasar produk halal di sektor makanan, kosmetik, farmasi, dan pariwisata.

Sementara bagi Indonesia, kolaborasi ini memperkuat posisi sebagai negara yang aktif dalam membangun jaringan halal global serta memperluas pengaruh dalam penetapan standar internasional.

Penguatan Sumber Daya Manusia dalam Industri Halal

Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian dalam penganugerahan ini adalah penguatan sumber daya manusia di bidang halal. Ahmad Haikal Hasan dinilai memiliki kontribusi dalam mendorong pengembangan SDM yang memahami sistem jaminan produk halal secara komprehensif.

SDM menjadi faktor kunci dalam keberhasilan industri halal. Tidak hanya auditor dan pengawas, tetapi juga peneliti, tenaga laboratorium, konsultan industri, pengembang sistem digital, hingga tenaga edukasi publik diperlukan untuk membangun ekosistem halal yang kuat.

Karena itu, pendidikan halal perlu dikembangkan lebih luas, tidak hanya dalam bentuk pelatihan teknis, tetapi juga sebagai bidang akademik yang terintegrasi dengan berbagai disiplin ilmu.

Di masa depan, kebutuhan terhadap tenaga ahli halal diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan industri halal global yang semakin pesat.

Diplomasi Halal Indonesia di Panggung Internasional

Pemberian gelar Profesor Kehormatan ini juga mencerminkan semakin kuatnya posisi Indonesia dalam diplomasi halal internasional. Dalam hubungan global, halal tidak hanya menjadi isu perdagangan, tetapi juga bagian dari soft power yang dapat memperkuat posisi suatu negara.

Melalui penguatan standar halal, Indonesia dapat memperluas kerja sama ekonomi, meningkatkan ekspor produk, serta memperkuat hubungan dengan berbagai negara. Halal juga menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk berperan lebih besar dalam pembentukan standar global yang berbasis kepercayaan dan kualitas.

Dalam konteks ini, penghargaan dari Silla University menjadi simbol bahwa peran Indonesia dalam industri halal semakin diakui dan diperhitungkan di tingkat internasional.

Momentum Penguatan Ekosistem Halal Nasional

Meski menjadi pengakuan penting di tingkat global, penghargaan ini juga menjadi pengingat bahwa penguatan ekosistem halal di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal literasi halal, percepatan sertifikasi, digitalisasi layanan, serta harmonisasi standar.

Ke depan, pengembangan industri halal perlu terus diarahkan pada kemudahan akses bagi pelaku usaha, terutama UMKM, serta peningkatan edukasi kepada masyarakat luas. Dengan ekosistem yang kuat, Indonesia tidak hanya menjadi pasar halal terbesar, tetapi juga pusat pengembangan industri halal dunia.

Gagasan “Halal Is for All” yang kembali ditegaskan Ahmad Haikal Hasan mencerminkan arah baru industri halal yang lebih inklusif, modern, dan relevan dengan kebutuhan global.

Dari Busan, Korea Selatan, pesan tersebut menguat sebagai simbol bahwa halal kini telah menjadi bahasa universal yang menghubungkan nilai, kualitas, dan kepercayaan di seluruh dunia.

Comments

Popular posts from this blog

Teknik Efektif Meningkatkan Brand Awareness Secara Konsisten Dan Terarah

Selamatkan 7 Lansia di Korsel, Nelayan WNI Sugianto Dapat Penghargaan Presiden Lee Jae Myung